Intip Bisnis BUMN Pos di Asia, Ada yang Senasib PosIND?

- Penulis

Jumat, 6 November 2026 - 18:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(sumber foto: Stenly P. dari Sangihe)

(sumber foto: Stenly P. dari Sangihe)

Tekanan yang dialami Pos Indonesia, rupanya bukan fenomena tunggal. Di banyak negara – khususnya kawasan Asia-, pengiriman surat fisik yang dulu menjadi tulang punggung pendapatan telah tergantikan komunikasi digital.

​Jika melihat peta persaingan pos (postal) di Asia, terdapat dua kelompok besar:

1. ​Kelompok BUMN Untung Besar (Jepang & Tiongkok):

Ada Japan Post dan China Post yang mencatatkan keuntungan raksasa bukan dari pengiriman surat atau paket ritel semata, melainkan dari anak usaha di sektor keuangan atau perbankan (Japan Post Bank dan Postal Savings Bank of China). Pendapatan perbankan dan asuransi inilah yang menopang seluruh biaya operasional pos fisik mereka.

2. ​Kelompok BUMN Berjuang/Rugi (India & Filipina):

Contohnya, India Post dan PHLPost (Filipina) yang mengalami defisit operasional yang signifikan. Penyebab utamanya serupa; tingginya biaya jaringan operasional ke daerah pelosok yang tak sebanding dengan pendapatan, ditambah beban tetap operasional yang masif.

Pos Indonesia berada di posisi yang mirip kelompok kedua. Sebagai pengemban Universal Service Obligation (USO), perseroan wajib melayani hingga pelosok, termasuk wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal), meski secara komersial kerap merugi.

Dilema “Pedang Bermata Dua”: Penugasan Pemerintah

Baca Juga :  Pos Indonesia Perkuat Layanan Retail Business untuk UMKM: Terluas, Tercepat, Terpercaya.

​Banyak masyarakat menduga bahwa proyek penyaluran Bantuan Sosial (Bansos), pembayaran gaji pensiunan, hingga pengiriman barang ke wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) adalah “tambang uang” bagi Pos Indonesia.

Namun, di sinilah letak rahasia terbesarnya: penugasan tersebut adalah pedang bermata dua.

  • Sisi Beban Operasional : Sebagai perpanjangan tangan negara, Pos Indonesia mengemban kewajiban Universal Service Obligation (USO). Pos Indonesia wajib membuka kantor dan mengirimkan barang ke pelosok pegunungan atau pulau terpencil, meskipun secara komersial pengiriman tersebut rugi. Biaya logistik 3T sangat tinggi, sementara imbal jasa (fee) dari proyek pemerintah umumnya bermargin tipis.
  • Sisi Beban Infrastruktur : Untuk menyalurkan bansos dan gaji pensiunan, Pos Indonesia harus memelihara ribuan gedung kantor pos fisik dan staf loket hingga tingkat kecamatan. Biaya perawatan dan operasional ini menjadi beban tetap (fixed cost) yang sangat masif.

​Di sisi lain, untuk pasar kiriman barang ritel di kota-kota besar, Pos Indonesia harus berdarah-darah menghadapi perang harga yang diusung oleh perusahaan kurir swasta berbasis aplikasi dan modal asing.

Penugasan seperti penyaluran bantuan sosial dan pembayaran pensiun memang menambah pendapatan, tetapi marginnya tipis. Di sisi lain, perseroan harus memelihara ribuan kantor pos dan petugas loket hingga tingkat kecamatan, yang menjadi beban tetap besar. Di pasar paket ritel perkotaan, Pos Indonesia juga harus bersaing ketat dengan kurir swasta berbasis aplikasi.

Baca Juga :  Pos Indonesia Sukses Layani Kiriman Kargo Haji 2026

Angin Segar Danantara: Pos Indonesia Disiapkan Jadi Induk Holding Logistik

​Meskipun tengah diterpa isu restrukturisasi keuangan, pemerintah melalui Danantara secara tegas menyatakan bahwa Pos Indonesia tidak akan dipailitkan. Justru sebaliknya, Pos Indonesia ditunjuk sebagai induk perusahaan (holding) logistik BUMN nasional.

​Danantara menilai Pos Indonesia memiliki keunggulan mutlak yang tidak dimiliki oleh perusahaan manapun: jaringan distribusi fisik yang mencapai lebih dari 4.000 titik di seluruh pelosok tanah air.

Langkah ini diambil untuk mengakhiri persaingan tidak sehat dan duplikasi rute antar-BUMN, sekaligus merebut pangsa pasar logistik nasional senilai ribuan triliun rupiah yang selama ini belum tergarap optimal oleh BUMN.

​Jadi, kondisi Pos Indonesia saat ini bukanlah tanda hilangnya relevansi, melainkan strategi dari perseroan yang sedang merapikan rumah tangganya di tengah transformasi besar. Di bawah payung konsolidasi Danantara, penugasan negara dan ribuan titik jaringan fisik Pos Indonesia tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan fondasi utama pembentukan raksasa logistik nasional yang terintegrasi. (SR)

Penulis : Sabri Rasyid

Editor : Sabri Rasyid

Sumber Berita : Diolah dari berbagai sumber

Berita Terkait

Angga Raka Prabowo: Pemimpin Digital Harus Berani Ubah Cara Kerja Lama
Telin Dinobatkan Perusahaan Wholesale Terbaik di Asia dalam Telecom Review Excellence Awards 2026
KADIN DKI Jakarta Buka Pintu Kolaborasi, Siap Cetak Pemuda Masjid Jadi Wirausaha Digital
Dukung Akurasi Informasi Penerbangan, Telkom University dan AirNav Kenalkan NOTAM Berbasis AI di AS
Belajar Memimpin Diri hingga Ubah Lingkungan, Anak Muda Medan Ikuti GerakDampak Academy 2026
Telkom Dukung Try Out TKA 2026 di Banten, Fasilitasi 84.000 Peserta dari 570 Sekolah
UMKM Binaan Telkom Jaring Peluang Bisnis di 18 Negara melalui TEI 2026
Wamenkeu Juda Agung: DJKN Harus Bertransformasi Menjadi Asset Strategis
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 18:54 WIB

Angga Raka Prabowo: Pemimpin Digital Harus Berani Ubah Cara Kerja Lama

Jumat, 6 November 2026 - 18:48 WIB

Intip Bisnis BUMN Pos di Asia, Ada yang Senasib PosIND?

Jumat, 6 November 2026 - 18:39 WIB

Telin Dinobatkan Perusahaan Wholesale Terbaik di Asia dalam Telecom Review Excellence Awards 2026

Jumat, 6 November 2026 - 05:44 WIB

KADIN DKI Jakarta Buka Pintu Kolaborasi, Siap Cetak Pemuda Masjid Jadi Wirausaha Digital

Kamis, 5 November 2026 - 16:27 WIB

Dukung Akurasi Informasi Penerbangan, Telkom University dan AirNav Kenalkan NOTAM Berbasis AI di AS

Berita Terbaru

(sumber foto: Stenly P. dari Sangihe)

Aneka Berita

Intip Bisnis BUMN Pos di Asia, Ada yang Senasib PosIND?

Jumat, 6 Nov 2026 - 18:48 WIB