urbandiginews.com – Komunitas budaya Alusi Au kembali menunjukkan komitmennya dalam merawat warisan leluhur dengan menyelenggarakan kegiatan bertema “Uli ni Rupa, Uli ni Roha” di SMK Negeri 1 Sidikalang. Program ini dirancang untuk menanamkan pemahaman mendalam kepada para siswa mengenai dua pilar keindahan dalam budaya Batak Toba: keindahan rupa dan keindahan hati—dua nilai yang sejak dulu melekat dalam identitas masyarakat Batak.
Kegiatan dibuka dengan sesi dialog budaya bersama Presley Panca Yahya Simangunsong, pendiri Alusi Au, yang memandu diskusi bersama narasumber dari Dinas Kepemudaan dan Olahraga serta praktisi tata rias adat Batak. Para narasumber menjelaskan bahwa Uli ni Rupa bukan sekadar penampilan fisik yang rapi dan elok, tetapi sebuah ekspresi estetika tradisional melalui tata rias dan busana adat. Sementara itu, Uli ni Roha menjadi cerminan karakter: kebijaksanaan, budi pekerti, serta keluhuran hati yang menjadi pedoman hidup masyarakat Batak Toba.
Dialog ini mengajak para siswa melihat bahwa keindahan sejati bukan hanya yang tampak di permukaan, melainkan keindahan yang tumbuh dari moral, sikap, dan cara menghargai orang lain.
Usai dialog, kegiatan dilanjutkan dengan workshop rias adat dan busana Batak Toba. Para instruktur memaparkan ciri khas riasan tradisional, perpaduan estetika yang digunakan, hingga makna simbolis dari setiap elemen busana adat. Siswa diajak memahami bahwa tata rias tradisional bukan semata-mata seni mempercantik wajah, tetapi sebuah narasi budaya yang kaya filosofi.
Sebanyak 25 siswa terpilih kemudian mengikuti sesi praktik langsung. Mereka mencoba menerapkan teknik rias Batak Toba sambil mempelajari makna di balik setiap detail prosesnya. Momen ini menjadi ruang bagi para peserta untuk merasakan langsung perpaduan antara kreativitas, budaya, dan nilai-nilai leluhur.
Melalui program “Uli ni Rupa, Uli ni Roha”, Alusi Au berharap generasi muda Sidikalang dapat tumbuh dengan kebanggaan terhadap identitas budaya Batak Toba, sekaligus termotivasi untuk menjaga, merawat, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.
Penulis : Theodora Stefanie
Editor : Marah Bangun








