Di tengah hiruk-pikuk skena musik alternatif Indonesia, muncul satu nama baru yang belakangan mencuri banyak telinga: Grass Park. Band asal Medan ini seperti hembusan angin segar—datang dari ruang kelas, muncul di studio kecil, lalu melesat ke panggung-panggung independen dengan energi khas anak muda yang sedang menemukan suaranya.
Terbentuk pada Januari 2025, Grass Park terdiri dari empat sosok dengan karakter musikal yang saling menguatkan: Raisya Aqila (vokal & gitar), Denis Alviano (gitar), Hoki Said (bass), dan Jhony Wijaya (drum). Nama mereka mulai ramai dibicarakan setelah merilis single “Memoirs” pada 21 Maret 2025—lagu yang menghadirkan kesan emosional ala midwest emo, dipadukan ketukan dinamis yang mengingatkan pada math rock kontemporer. Keseriusan mereka semakin terlihat melalui mini album Fleeting Moment yang rilis pada Juni 2025.
Namun yang membuat Grass Park menarik bukan hanya musiknya, melainkan dualitas yang mereka hidupi. Dua personelnya, Raisya dan Hoki, masih aktif sebagai mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU). Ya, sebagian proses kreatif Grass Park tumbuh di sela-sela ruang kuliah, tugas akademik, hingga rapat kelompok.
Raisya mengakui bahwa hidup sebagai mahasiswa sekaligus musisi membuat hari-harinya berjalan dalam tempo yang tak biasa.
“Aku terbiasa nyusun jadwal biar semuanya jalan bareng. Sebenarnya banyak terbantu dari kuliah juga, karena ada mata kuliah manajemen yang bikin aku lebih rapi,” ujarnya.
Bagi Raisya, tantangan terbesar bukan pada teknis bermusik, tetapi pada menjaga energi dan konsistensi. Banyak musisi muda akhirnya goyah ketika beban kuliah mulai menumpuk, tetapi Grass Park justru melihat itu sebagai latihan mental.
“Keseimbangan itu penting banget. Kalau bisa dijaga, justru bikin kita lebih disiplin dan kreatif,” tambahnya.
Selain dukungan kampus, Grass Park punya hubungan emosional dengan para pendengarnya. Musik mereka bukan sekadar konsumsi telinga—ia menjadi ruang pelarian, teman sekaligus pantulan perasaan.
“Kami senang lagu-lagu kami bisa menemani pendengar di momen apa pun. Itu yang bikin kami terus semangat,” kata Raisya.
Masuk ke ranah musik independen membuat Grass Park belajar satu hal penting: keaslian adalah mata uang yang paling berharga. Di tengah industri kreatif yang penuh kompetisi, mereka memilih tetap spontan, jujur, dan organik dengan warna musik yang mereka yakini.
Dengan atmosfer kampus yang suportif, komunitas musik Medan yang solid, dan karya yang perlahan menemukan tempatnya, Grass Park mulai naik sebagai representasi generasi baru musisi muda—produktif, disiplin, dan tidak takut mengeksplorasi suara sendiri.
Gelombang awal mereka sudah terdengar. Sisanya hanya menunggu waktu sebelum Grass Park menjadi salah satu nama yang diperhitungkan dalam skena alternatif nasional.
Penulis : Ferdi Rakiven Sianturi - Quintara Publisher
Editor : Marah Bangun








