urbandiginews.com – Direktur Komersial PT Pos Indonesia (Persero), Fahdel Akbar menyambut baik perhatian Kementerian Kebudayaan terhadap Museum Pos Indonesia. Menurutnya, Pos Indonesia berkomitmen menjaga dan melestarikan warisan sejarah perusahaan sebagai bagian dari sejarah perjalanan bangsa.
“Pos Indonesia menyambut baik dukungan Kementerian Kebudayaan dalam upaya pelestarian Museum Pos Indonesia. Kami berkomitmen untuk terus merawat, mengembangkan, dan menghadirkan museum ini sebagai ruang edukasi yang menarik bagi masyarakat, khususnya generasi muda, agar semakin mengenal sejarah komunikasi dan perjalanan Pos Indonesia dalam membangun negeri,” ujar Fahdel Akbar.
Dia menambahkan, Pos Indonesia juga akan terus berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menghadirkan program-program edukatif yang mampu menghidupkan kembali budaya literasi, termasuk melalui aktivitas berkirim surat, filateli, serta pemanfaatan aset-aset bersejarah sebagai media pembelajaran bagi masyarakat.
Diketahui, Museum Pos Indonesia merupakan salah satu museum sejarah komunikasi tertua di Indonesia yang berada di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, berdampingan dengan Gedung Sate. Gedung Pos ini dibangun pada masa kolonial Belanda dan telah berusia lebih dari satu abad, sehingga menjadi bagian dari bangunan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi.
Museum ini menyimpan ribuan koleksi yang menggambarkan perjalanan layanan pos dan komunikasi di Indonesia, mulai dari masa Hindia Belanda, era perjuangan kemerdekaan, hingga perkembangan layanan pos di era modern. Koleksinya meliputi prangko dari berbagai periode, mesin stempel, kotak surat, timbangan pos, peralatan sortir surat, kendaraan operasional, seragam pegawai pos, dokumen bersejarah, hingga berbagai perangkat telekomunikasi yang pernah digunakan di Indonesia.
Salah satu daya tarik utama museum adalah koleksi filateli yang merekam berbagai peristiwa penting dalam sejarah bangsa melalui penerbitan prangko. Prangko-prangko tersebut tidak hanya berfungsi sebagai alat pembayaran jasa pos, tetapi juga menjadi media dokumentasi sejarah, kebudayaan, tokoh nasional, flora dan fauna, serta berbagai pencapaian Indonesia di mata dunia.***
Penulis : Eka Sanur
Editor : Marah Bangun









