Medan, Oktober 2026. Menjalani kehidupan sebagai mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan kegiatan perkuliahan. Bagi Mhd Haikal Ananta, mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Sumatera Utara (USU), masa kuliah juga menjadi kesempatan untuk belajar berwirausaha, mengikuti berbagai kegiatan, dan mengembangkan kemampuan diri.
Mahasiswa angkatan 2024 asal Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, ini menjalankan usaha mochi bersama seorang temannya di tengah aktivitas perkuliahan. Usaha tersebut bermula ketika temannya yang memiliki kemampuan membuat mochi mengajaknya untuk berjualan bersama. Keduanya kemudian bekerja sama dalam proses pembuatan dan penjualan mochi.
Dalam kegiatan sehari-hari, Haikal berkeliling di lingkungan USU untuk menawarkan mochi kepada mahasiswa. Ia terkadang menggunakan Bus Linus (Lintas USU) jika tersedia, tetapi tidak jarang juga berjalan kaki untuk menjangkau calon pembeli di berbagai fakultas.
Menjalankan usaha di lingkungan kampus memberinya pengalaman yang tidak hanya berkaitan dengan penjualan. Ia belajar membangun keberanian untuk menawarkan produk, menghadapi penolakan, dan tetap berusaha ketika dagangan belum terjual sesuai harapan.
“Awalnya, tentu nggak selalu mudah. Ada kalanya dagangan nggak habis, ada rasa malu ketika menawarkan produk, bahkan terkadang ada penolakan dari orang lain. Tapi, dari situ saya belajar untuk lebih percaya diri dan nggak mudah menyerah,” ujar Haikal.
Menurutnya, berjualan mochi juga menjadi ruang untuk belajar memahami karakter orang lain dan membangun hubungan dengan lingkungan sekitarnya. Dukungan teman-temannya turut memberikan pengalaman berharga, termasuk ketika mereka membeli mochi untuk membantu kegiatan penggalangan dana atau danusan acara.
Bagi Haikal, pengalaman tersebut membuat usaha yang dijalaninya memiliki arti lebih dari sekadar memperoleh penghasilan. Ia juga berkesempatan belajar mengenai ketekunan, komunikasi, dan bagaimana usaha kecil dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
Di sisi lain, Haikal tetap berusaha menjalankan tanggung jawab akademiknya. Aktivitas perkuliahan, organisasi, kepanitiaan, dan kompetisi membuatnya perlu menentukan prioritas agar setiap kegiatan dapat dijalankan sesuai dengan kemampuan dan waktu yang tersedia. Ia mengakui bahwa membagi waktu menjadi salah satu tantangan yang dihadapi. Kesibukan yang beragam terkadang membuatnya merasa lelah secara fisik maupun mental.
“Tantangan terbesar saya sebenarnya adalah membagi waktu dan menjaga konsistensi. Saya punya tanggung jawab sebagai mahasiswa, aktif dalam organisasi, dan juga menjalankan usaha mochi. Jadi, waktu untuk mempersiapkan perlombaan terkadang cukup terbatas,” pungkasnya.
Penulis : Rocinta Caroline Nainggolan
Editor : SR












