I Think You Need to Become a Beginner Again

- Penulis

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 06:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

sumber foto: sahil@sahilbloom.com

sumber foto: sahil@sahilbloom.com

Oleh: Sahil Bloom

Saatnya Menjadi Pemula Lagi.

Pada 2021, saya meninggalkan karier di dunia keuangan untuk fokus total menulis dan berkarya.

Keputusan itu terlihat nekat, tapi sebenarnya tidak datang tiba-tiba. Hampir setahun sebelumnya, saya sudah menulis di setiap waktu luang yang saya punya.

Semuanya bermula saat pandemi. Ketika lockdown membuat hidup seolah berhenti di awal 2020, menulis justru jadi obsesi baru saya.

Awalnya di X (dulu Twitter). Saya membuat utas berisi penjelasan soal keuangan dan uang. Lalu berkembang menjadi newsletter, tempat saya bisa membahas berbagai topik kehidupan secara jauh lebih mendalam dibanding di media sosial.

Saat memutuskan full time, saya yakin kualitas tulisan saya akan melesat. Logikanya sederhana: makin banyak waktu yang saya curahkan, makin banyak dan makin bagus pula hasilnya.

Ternyata saya salah.

Tak lama, saya sadar ada yang berubah. Menulis, yang dulu jadi momen paling menyenangkan dalam sehari, mulai terasa seperti pekerjaan kantoran. Berat. Bahkan dipaksakan.

Saya mulai menghindari topik yang sebenarnya saya sukai, hanya karena topik itu kurang ramai respons. Setiap tulisan baru terbit, saya langsung mengecek angka-angkanya. Berkali-kali saya refresh. Makin lama, makin sulit bagi saya untuk menulis dengan jujur.

Gairah itu telah berubah menjadi kewajiban.

Kalau Anda sering berselancar di internet, pasti tak asing dengan nasihat semacam ini: Jadikan hobimu cuan! Ubah passion jadi bisnis sampingan! Kalau kamu mencintai pekerjaanmu, kamu tak akan merasa bekerja seumur hidup.

Nah, saya mencintai apa yang saya kerjakan. Tapi tetap saja, rasanya berubah jadi kerja.

Rupanya, nasihat populer itu bisa berbahaya. Dan ada penjelasan ilmiahnya.

Eksperimen Anak-anak dan Spidol

Pada 1973, tiga psikolog, yakni Mark Lepper, David Greene, dan Richard Nisbett, melakukan studi di Bing Nursery School, sebuah taman kanak-kanak milik Universitas Stanford, Amerika Serikat.

Selama beberapa hari, mereka mengamati anak-anak berusia 3-5 tahun saat jam bermain bebas. Dari situ, mereka memilih sekelompok anak yang memang sudah senang menggambar.

Anak-anak itu lalu dibagi secara acak ke dalam tiga kelompok:

  1. Kelompok yang dijanjikan hadiah. Peneliti bilang, kalau mereka menggambar, mereka akan mendapat penghargaan khusus bernama “Good Player Award”. Anak-anak setuju, menggambar, lalu menerima penghargaan itu.
  2. Kelompok yang diberi hadiah kejutan. Anak-anak diminta menggambar seperti biasa, tanpa menyebut hadiah apa pun. Setelah selesai, barulah peneliti memberi kejutan berupa penghargaan yang sama.
  3. Kelompok tanpa hadiah. Anak-anak menggambar seperti biasa, tanpa janji maupun pemberian hadiah.

Satu hingga dua minggu kemudian, peneliti kembali dan menyediakan spidol serta kertas yang sama. Diam-diam, mereka mencatat berapa lama setiap anak menggambar di waktu luang, tanpa iming-iming apa pun.

Baca Juga :  Malam Puncak Penghargaan Energi Subroto 2026, Pemerintah Luncurkan Program Pengawal Energi untuk 3.679 SPBU

Hasilnya menarik. Kelompok yang dijanjikan hadiah hanya menggambar sekitar separuh dari kebiasaan awal mereka. Sementara dua kelompok lainnya tetap menggambar seperti sebelumnya.

Padahal, kelompok pertama dan kedua sama-sama mendapat hadiah. Bedanya, hanya kelompok yang tahu hadiah akan datang yang minatnya merosot.

Jadi, yang merusak bukan hadiahnya. Yang merusak adalah harapan akan hadiah itu.

Menurut para peneliti, janji hadiah mengubah cara anak-anak memandang kegiatan menggambar. Awalnya mereka berpikir, “Aku menggambar karena aku suka menggambar.” Setelah dijanjikan hadiah, pikirannya bergeser menjadi, “Aku menggambar supaya dapat penghargaan.”

Mengenal Efek Overjustifikasi

Eksperimen ini menjadi bukti dari apa yang disebut Overjustification Effect atau Efek Overjustifikasi.

Sederhananya, ini adalah fenomena psikologis ketika imbalan dari luar yang kita harapkan, entah itu uang, status, atau penghargaan, justru menurunkan motivasi alami kita untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya kita sukai.

Bagi anak-anak di TK tadi, “Good Player Award” memberi alasan berlebihan untuk menggambar. Kegiatan yang tadinya spontan dan menyenangkan berubah menjadi semacam transaksi.

Itulah yang saya alami di 2021:

  • Saya menulis demi engagement, sama seperti anak-anak menggambar demi penghargaan.
  • Saya menghindari topik yang kurang ramai, sama seperti anak-anak yang jadi enggan menggambar.
  • Kegiatan yang spontan dan menyenangkan telah berubah menjadi transaksi.

Saya berani bertaruh, semua orang pernah mengalami versi masing-masing. Tak perlu sampai menjadikan hobi sebagai bisnis. Cukup dengan menempelkan “hadiah” versi sendiri pada sebuah hobi, lalu perlahan rasa senangnya memudar.

Contohnya banyak di sekitar kita:

  • Buku yang dulu Anda cintai, kini dibaca demi mengejar target jumlah buku setahun.
  • Pendakian yang dulu dinanti, kini dilakukan demi foto Instagram di puncak.
  • Kerajinan tangan yang dulu dinikmati, kini dikerjakan demi menjaga toko online tetap jalan.
  • Lari yang dulu disukai, kini dilakukan demi memamerkan catatan waktu di Strava.

Hal yang dulu Anda lakukan tanpa alasan apa pun, kini dilakukan karena alasan tertentu. Bahkan meski alasan itu sering kita abaikan, supaya tak perlu jujur pada diri sendiri.

Dan tanpa sadar, rasa tertarik yang dulu begitu kuat pun perlahan terkikis.

Bukan Anti-Imbalan

Tulisan ini bukan ajakan untuk menolak imbalan.

Buktinya, lima tahun kemudian saya masih di sini dan sangat menikmati setiap kesempatan menulis untuk Anda. Lewat buku, newsletter, media sosial, dan banyak tempat lainnya.

Saya tidak meninggalkan imbalannya. Menulis tetap pekerjaan saya. Saya juga masih punya “Good Player Award” versi sendiri, entah berupa angka engagement atau label buku terlaris New York Times.

Baca Juga :  Telkom Percepat Transformasi Digital untuk Perkuat Ekosistem Nasional dan Dukung Visi Indonesia Emas 2045

Bedanya, saya berhenti menjadikan harapan akan imbalan itu sebagai bahan bakar. Saya tak lagi membiarkannya menjadi alasan untuk duduk dan menulis.

Saya memilih menjadi seperti anak di kelompok hadiah kejutan. Menggambar karena memang suka menggambar, tanpa tahu ada penghargaan yang menunggu.

Caranya? Saya membuat batasan agar tidak terbebani oleh ekspektasi tersebut:

  • Menulis untuk diri sendiri. Tulisan terbaik saya selalu lahir ketika saya membayangkan diri sendiri sebagai pembacanya, dan merasa mendapat manfaat dari tulisan itu. Prinsip ini jadi kompas saya.
  • Berhenti memantau angka. Saya tak lagi mengecek statistik engagement. Tugas itu saya serahkan ke anggota tim, yang merangkumnya dalam laporan berkala.
  • Melepas urusan bisnis. Saya merekrut orang untuk mengurus sisi bisnis, sehingga saya bisa fokus pada proses kreatifnya.

Batasan ini saya buat bahkan sebelum masuk akal secara bisnis. Bagi saya, itu bukan kemewahan yang baru bisa dinikmati setelah usaha cukup besar. Justru itu syarat untuk bisa sampai ke sana.

Anehnya, begitu saya berhenti fokus pada imbalan, imbalan itu terus berdatangan. Hanya saja, ia bukan lagi tujuan utamanya.

Ada satu detail lagi dari studi tadi yang patut disebut. Gambar buatan kelompok yang dijanjikan hadiah dinilai lebih rendah kualitasnya dibanding dua kelompok lain.

Ketika kita melakukan sesuatu karena benar-benar tertarik, hasil karyanya jadi lebih baik. Yang lebih penting, karya itu kembali terasa sebagai milik kita sendiri.

Jadilah Pemula Lagi

Apa pun hobi atau passion yang menarik energi Anda, coba pikirkan cara melindunginya dengan beberapa batasan:

  • Lakukan untuk diri sendiri. Anggap saja penontonnya cuma satu orang, yaitu Anda. Biarkan ia jadi kesenangan yang “egois”.
  • Jangan lacak semua angka. Tak perlu catatan waktu. Tak perlu streak. Tak perlu hitungan.
  • Beri jarak antara kegiatan dan hasilnya. Jeda waktu bisa membantu. Kalau sudah jadi bisnis, jaraknya bisa berupa orang yang Anda rekrut.

Lebih dari itu semua, saran saya cuma satu: jadilah pemula lagi.

Ikut komunitas lari. Belajar piano. Mulai melukis. Coba pertukangan kayu. Berkebun. Belajar masak sendiri. Apa saja.

Anda tidak harus jago di semua hal yang Anda lakukan. Tak semua kegiatan perlu diukur dengan angka. Anda tak harus naik level atau menang. Tidak semua hal harus menjadi sesuatu.

Ini semacam pemberontakan kecil di dunia yang menuntut kita melakukan segala hal demi tujuan tertentu.

Ada hal-hal yang cukup dibiarkan apa adanya.


Artikel ini merupakan adaptasi berbahasa Indonesia dari tulisan Sahil Bloom berjudul “I Think You Need to Become a Beginner Again”. Hak cipta © Sahil Bloom.

Editor : SR

Sumber Berita : the Curiosity Chronicle sahil@sahilbloom.com

Berita Terkait

Soal TIME100 Next Gala d2026 di New York, Danantara Tegaskan Tak Bayar Sponsorship
Kadin Catat Sederet Capaian Investasi di Era Prabowo: dari Energi hingga Teknologi Digital
Soal Digital Leadership, Meutya Hafid: Saatnya Anak Muda Menentukan Arah Pemanfaatan AI
KADIN DKI Jakarta Terima Delegasi Hunan, Jajaki Kerja Sama Pertanian dalam Kerangka RCEP
Sweeping di Lapas Kerobokan, 24 Napi Positif Gunakan Sabu dan Ekstasi
Wakili Wilayah Tengah, Ketum KADIN DKI Diana Dewi Sampaikan Pandangan Umum di Rapimnas KADIN 2026
Dari Vokalis Band Menjadi Solois, Kiki Tuangkan Pengalaman Personal dalam Single Debut “Till My Heart Gives Up”
Telkom Raih “SOE In-House of The Year” di ALB Indonesia Law Awards 2026
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 11:50 WIB

Soal TIME100 Next Gala d2026 di New York, Danantara Tegaskan Tak Bayar Sponsorship

Minggu, 1 November 2026 - 09:31 WIB

Kadin Catat Sederet Capaian Investasi di Era Prabowo: dari Energi hingga Teknologi Digital

Minggu, 1 November 2026 - 05:10 WIB

Soal Digital Leadership, Meutya Hafid: Saatnya Anak Muda Menentukan Arah Pemanfaatan AI

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:35 WIB

KADIN DKI Jakarta Terima Delegasi Hunan, Jajaki Kerja Sama Pertanian dalam Kerangka RCEP

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 06:17 WIB

I Think You Need to Become a Beginner Again

Berita Terbaru

sumber foto: sahil@sahilbloom.com

Aneka Berita

I Think You Need to Become a Beginner Again

Sabtu, 31 Okt 2026 - 06:17 WIB