Jakarta, November 2026. Pengalaman industri telekomunikasi menghadapi ekspansi perusahaan over the top (OTT) menjadi peringatan bagi Indonesia saat memasuki era kecerdasan artifisial (AI).
Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital Ismail mengingatkan agar Indonesia tidak kembali hanya menjadi pasar bagi perusahaan teknologi AI global.
Oleh karena itu, Pemerintah mengajak operator telekomunikasi menyatukan kekuatan melalui strategi Indonesia Incorporated untuk membangun posisi tawar nasional dan memastikan Indonesia memperoleh manfaat ekonomi lebih besar dari perkembangan AI.
Ismail mengingatkan pengalaman tergerusnya bisnis operator akibat ekspansi OTT dapat terulang jika operator menyikapi fenomena perkembangan pesat AI secara sendiri-sendiri.
Indonesia berisiko hanya menjadi pasar dan saluran bisnis perusahaan global, sementara sebagian besar keuntungan dinikmati pemain asing.
“Kalau pendekatan ini berjalan terus, kita akan menyiapkan karpet merah buat pemain global dan kita hanya menjadi pasar. Para operator hanya akan menjadi saluran bisnis mereka, jadi kita dapat remah-remahnya saja,” ujar Sekjen Ismail dalam sesi Diskusi Panel pada acara Lintas Teknologi Solutions Day 2026 di Jakarta Timur, Sabtu (31/10/2026).
Untuk mencegahnya, Kemkomdigi mendorong pemerintah dan operator duduk bersama menyusun model bisnis serta strategi negosiasi dengan pemain global.
Kemkomdigi mengambil peran sebagai orkestrator agar kekuatan pasar Indonesia menjadi daya tawar bersama.
“Komdigi hadir menjadi orkestrator untuk membantu memperbaiki model bisnis ini dulu. Untuk diskusi ke depan, bersama para global player, pemerintah dan para telko harus duduk satu meja agar posisi tawar kita kuat. Karena kita punya pasar,” tegas Sekjen Ismail.
Strategi Indonesia Incorporated juga diperlukan untuk memperkuat posisi Indonesia pada setiap lapisan ekosistem AI melalui investasi dan negosiasi bersama, bukan secara terpisah oleh masing-masing perusahaan.
“Kalau kita belanja sendiri-sendiri atau mengeluarkan negosiasi sendiri-sendiri, pasti akan berbeda ketika kita bicara Indonesian Incorporated untuk setiap stack itu. Kita harus membangun daya tawar sebagai bangsa, bukan sebagai perusahaan yang datang sendiri-sendiri,” jelas Sekjen Ismail.
Persaingan antaroperator tetap diperlukan untuk memberikan layanan terbaik, tetapi industri harus menentukan bidang yang dapat dikerjakan bersama.
“Masalah AI ini adalah masalah kedaulatan bangsa ke depan. Di sana ada kedaulatan data, ada kedaulatan digital. Operator saling bersaing, wajar. Namun, kita harus cari di bagian mana yang kita tidak harus bersaing,” ungkap Sekjen Ismail.
Editor : SR
Sumber Berita : Rilis Kementerian Komdigi












