MEMBANGUN EKOSISTEM PERFILMAN YANG ADIL: DEKLARASI SERIKAT PEKERJA KREATIF PERFILMAN INDONESIA (SPKPFI)

- Penulis

Senin, 5 Mei 2025 - 20:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

urbandiginews.com — Dalam momentum Hari Buruh Internasional, sebuah langkah monumental dalam pembangunan ekosistem perfilman Indonesia resmi dimulai dengan dideklarasikannya Serikat Pekerja Kreatif Perfilman Indonesia (SPKPFI) di Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Jakarta Selatan. SPKPFI hadir sebagai wadah perjuangan yang bertujuan mengadvokasi dan melindungi hak-hak para pekerja kreatif serta pelaku perfilman dari berbagai lini.

Deklarasi ini disampaikan oleh Agus Supriyadi, Presiden Partai Buruh, yang menegaskan pentingnya pembentukan serikat sebagai sarana perlindungan formal bagi pekerja film. Ia menyuarakan realitas getir yang dialami banyak pekerja film: tidak adanya jaminan sosial, pesangon, maupun royalti yang layak.

“Sudah saatnya para pekerja film memiliki serikat yang benar-benar memperjuangkan hak, kesejahteraan, dan masa depan mereka. Di luar negeri, seperti Hollywood, ada lebih dari 14 serikat yang membela pekerja film. Kita pun harus punya,” ujar Agus Supriyadi.
SPKPI diinisiasi oleh Sonny Pujisasono, atau Qdemang, yang melihat minimnya perhatian organisasi perfilman terhadap perlindungan kerja. Ia menyoroti bahwa organisasi yang ada cenderung hanya fokus pada pelatihan dan sertifikasi kompetensi, namun mengabaikan aspek perlindungan kesejahteraan pekerja.

Baca Juga :  Menapak 4 Tahun, NeutraDC Kokohkan Fondasi Digital Ecosystem Hub

“Organisasi perfilman lebih banyak bicara soal pelatihan dan peningkatan keterampilan. Tapi bagaimana dengan perlindungan saat mereka sakit, tidak produksif dan kecelakan di lapangan, serta masa pensiun? Itulah yang menjadi semangat dasar SPKPFI,” jelas Sonny.

Budi Sumarno, salah satu pendiri Serikat Pekerja Film Indonesia, turut menyampaikan dukungannya. Ia mengajak seluruh pekerja kreatif — baik aktor, penulis, teknisi, hingga kru lapangan — untuk bersama memperkuat solidaritas melalui SPKPFI.

“Hanya serikat pekerja yang akan berdiri bersama para kreator ketika mereka menghadapi persoalan di lapangan. Sudah waktunya kita membangun kekuatan itu bersama,” tegas Budi.

Kehadiran Paramita Rusadi, eksekutif Museum Perfilman Sinematek Indonesia, menambah bobot deklarasi ini. Dengan pengalaman langsung di lapangan, ia menyampaikan berbagai tantangan yang dihadapi para kru film — dari keterlambatan honorarium, hingga kurangnya perlindungan saat terjadi kecelakaan kerja. Ia pernah mengalami gangguan pendengaran karena suara tembakan saat syuting dan harus menanggung sendiri biaya pengobatan tanpa dukungan dari rumah produksi.

Baca Juga :  70 Persen Warganet Indonesia Menonton Film Secara Ilegal, Kemenkraf dan BPI Siap Berantas Pembajakan

“Saya sangat mengapresiasi gagasan SPKPFI yang digagas oleh Qdemang.panggilan akrab Sonny Pujisasono, Sudah saatnya para pekerja film punya perlindungan nyata. Saya mendukung penuh dan berharap serikat ini bisa menjadi wadah perjuangan yang kuat,” ujar Paramita.

SWartawan senior Yan Wijaya, yang juga hadir dalam deklarasi ini dan telah lama mengenal dekat perjuangan Paramita dan para pelaku film, menyampaikan dukungannya terhadap terbentuknya SPKPFI sebagai tonggak penting dalam sejarah perfilman Indonesia.

SPKPFI diharapkan dapat menjadi kekuatan kolektif yang tak hanya memperjuangkan hak-hak dasar pekerja film, tetapi juga menjadi mitra strategis bagi pemerintah dan pemangku kebijakan dalam menciptakan industri film nasional yang inklusif, adil, dan berkelanjutan.

Penulis : Budi Sumarno

Editor : Marah Bangun

Berita Terkait

Malam Puncak Penghargaan Energi Subroto 2026, Pemerintah Luncurkan Program Pengawal Energi untuk 3.679 SPBU
Jembatan Pasir Jaya–Paledang Diresmikan, Hadirkan Akses Aman dan Nyaman bagi Warga
Dua Tahun Kabinet Merah Putih Kementerian UMKM Perluas Akses Usaha dan Pembiayaan Rakyat
Telkom Akses Dukung Penataan Infrastruktur Telekomunikasi di Berbagai Kota di Indonesia
Komdigi Minta Transparansi AI dan Algoritma, Hak Publik atas Informasi Harus Dilindungi
Lantik Lima Pejabat Eselon I, Menkeu Dorong Kolaborasi untuk Wujudkan Kepercayaan Presiden
Berbicara di WCCE 2026, Gubernur Pramono Dorong Jakarta Jadi Hub Ekonomi Kreatif Dunia
Mitratel Perluas Inklusi Digital Nasional melalui Shared Infrastructure di Bali Tech Week 2026
Berita ini 121 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 10:11 WIB

Malam Puncak Penghargaan Energi Subroto 2026, Pemerintah Luncurkan Program Pengawal Energi untuk 3.679 SPBU

Jumat, 23 Oktober 2026 - 19:20 WIB

Dua Tahun Kabinet Merah Putih Kementerian UMKM Perluas Akses Usaha dan Pembiayaan Rakyat

Jumat, 23 Oktober 2026 - 18:23 WIB

Telkom Akses Dukung Penataan Infrastruktur Telekomunikasi di Berbagai Kota di Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:52 WIB

Komdigi Minta Transparansi AI dan Algoritma, Hak Publik atas Informasi Harus Dilindungi

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:42 WIB

Lantik Lima Pejabat Eselon I, Menkeu Dorong Kolaborasi untuk Wujudkan Kepercayaan Presiden

Berita Terbaru