Jakarta . Kajian atmosfer bumi tidak hanya terbatas pada prediksi cuaca harian di permukaan atau fenomena meteorologi konvensional. Lebih jauh dari itu, eksplorasi sains modern kini menjangkau hingga ke lapisan atmosfer atas yang menjadi ruang operasional vital bagi ribuan satelit di orbit bumi.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laode Muhammad Musafar Kilowasid, memaparkan bagaimana fenomena penjalaran energi dari atmosfer bawah dapat berdampak langsung pada dinamika atmosfer atas serta memengaruhi Space Situational Awareness (SSA) atau kesadaran situasi antariksa.
Musafar menjelaskan materi kajian atmosfer bumi yang ditekuni oleh Pusat Riset Antariksa BRIN berada pada posisi transisi yang sangat unik dan menantang. Fenomena cuaca harian seperti badai, pembentukan awan, dan pergerakan angin dipelajari oleh Pusat Riset Iklim dan Atmosfer, sementara para periset antariksa di Pusat Riset Antariksa berfokus pada dampak rambatannya di lapisan atas.
“Jadi, kita tidak mendalami secara mendetail proses-proses yang berhubungan langsung dengan pembentukan cuaca di permukaan. Namun, kita mempelajari bagaimana penjalaran atau transpor dari materi, energi, dan momentum yang dibangkitkan oleh pembentukan cuaca tersebut dibawa dan menjadi penyebab gangguan di atmosfer atas,” katanya, dalam Pelatihan Dasar Space Situational Awareness, Rabu 21/10).
Ia memaparkan keahlian di bidang geomagnetosfer, cuaca antariksa, serta kopling interaksi lapisan atmosfer sangat penting dalam memahami dinamika lingkungan antariksa. Menurutnya, atmosfer bumi bukanlah sistem yang statis, melainkan sistem dinamis yang senantiasa bergejolak akibat pasokan energi luar dari matahari.
Pemanasan matahari memicu perbedaan temperatur dan tekanan horizontal di permukaan bumi, yang kemudian menggerakkan massa udara serta membentuk gelombang atmosfer. Ketika gelombang atmosfer tersebut menjalar naik menembus lapisan troposfer, stratosfer, mesosfer, hingga mencapai termosfer dan ionosfer, gelombang tersebut membawa serta aliran massa, energi, dan momentum.
“Jika di dekat permukaan bumi terjadi gangguan yang sangat kuat, misalnya angin kencang yang menabrak pegunungan atau aktivitas konveksi badai yang masif, gangguan tersebut dapat merambat hingga ke lapisan termosfer dan ionosfer dengan amplitudo yang cukup besar,” tegas Musafar.
Penjalaran gelombang dan gangguan kerapatan di lapisan ionosfer seperti terbentuknya gelembung plasma (plasma bubble) dapat memicu pelemahan, pembelokan, serta hamburan gelombang elektromagnetik. Hal ini berdampak langsung pada kualitas sinyal komunikasi radio, akurasi pemetaan sistem navigasi satelit (GNSS), serta mengganggu operasional satelit di orbit rendah bumi (Low Earth Orbit/LEO).
Oleh karena itu, pemahaman yang presisi mengenai struktur vertikal, karakteristik fisik, dan proses kopling antar-lapisan atmosfer sangat krusial bagi BRIN dalam merumuskan model prediksi kondisi antariksa. Pemahaman ini tidak hanya berfungsi menginterpretasikan data pengamatan sensor secara akurat, tetapi juga menjadi fondasi utama dalam menjaga keselamatan dan keberlanjutan infrastruktur satelit Indonesia di ruang angkasa.
#HUMAS BRIN
Penulis : Redaksi
Editor : SR
Sumber Berita : Rilis BRIN







