Kemenbud Siapkan Peta Talenta Seni Nasional Berbasis Data, STEAM Jadi Arah Baru

- Penulis

Jumat, 9 Januari 2026 - 19:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dokumentasi: Kementerian Kebudayaan

Dokumentasi: Kementerian Kebudayaan

urbandiginews.com – Kementerian Kebudayaan RI mulai mematangkan langkah strategis dalam membangun ekosistem seni nasional berbasis data. Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menegaskan pentingnya pemetaan sumber daya manusia (SDM) kebudayaan yang objektif dan terukur sebagai fondasi kebijakan pengembangan talenta seni di masa depan.

Hal tersebut disampaikan Fadli Zon saat memimpin rapat pembahasan pemetaan SDM kebudayaan dan manajemen talenta di Gedung E Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Kamis (9/1/2026). Menurutnya, pendekatan berbasis data menjadi kunci agar pembinaan seni tidak lagi bertumpu pada asumsi, tetapi pada potensi riil yang teridentifikasi secara sistematis.

“Pemetaan talenta harus dilakukan secara menyeluruh dan berbasis data agar pengembangan kebudayaan memiliki arah yang jelas dan terukur,” ujar Fadli Zon.

Dalam rapat tersebut, dipaparkan hasil pemetaan talenta seni yang dilakukan ESQ Group di tiga sekolah percontohan. Founder ESQ Group, Ary Ginanjar, menjelaskan bahwa pemetaan dilakukan melalui metode Talent DNA terhadap siswa SMA Labschool Kebayoran, SMPN 1 Megamendung, dan SMAN 31 Jakarta.

Dokumentasi: Kementerian Kebudayaan

“Melalui Talent DNA, siswa difasilitasi untuk mengenali minat, bakat, dan potensi seni yang paling menonjol sebagai dasar pembinaan lanjutan,” kata Ary. Pemetaan ini mencakup enam bidang seni, mulai dari seni pertunjukan, seni rupa, desain, kriya, sastra, hingga seni media seperti film dan animasi.

Baca Juga :  BigBox AI dari Telkom, Solusi Keamanan Siber Tanpa Kompromi

Ia menambahkan, pendekatan Talent DNA membaca pola Drive Network Action setiap individu. “Motif dan cara belajar tiap orang berbeda. Dari situ terlihat kecenderungan potensi, apakah di seni, sains, riset, atau bidang lainnya,” jelasnya.

Paparan dilanjutkan oleh Dwitya Agustina, Vice President ESQ Group, yang menyebutkan bahwa dari 870 siswa yang dipetakan, potensi seni tersebar relatif merata. Setiap sekolah menunjukkan karakter dan keunggulan yang berbeda.

“Karena itu pembinaan tidak bisa diseragamkan. Harus berbasis data dan karakter masing-masing sekolah,” ujar Dwitya. Ia juga menekankan peran penting guru seni dalam memahami profil Talent DNA murid, terlebih mayoritas siswa memiliki gaya belajar kinestetik dan auditori yang menuntut metode pembelajaran berbasis praktik.

Menanggapi hasil pemetaan tersebut, Fadli Zon menekankan bahwa seni harus ditempatkan sejajar dengan bidang sains dan teknologi dalam pembangunan talenta nasional. Ia menyebut, pendekatan STEM ke depan perlu diperluas menjadi STEAM dengan memasukkan unsur arts.

“Arts tidak bisa dipisahkan dari pembangunan manusia. Seni adalah bagian penting dari inovasi dan peradaban,” tegasnya.

Baca Juga :  Digiland Kembali Digelar Mei 2025, 12.500 Runners Meriahkan Ajang Lari Berstandar Internasional dengan Konser Musik dan Pasar UMKM

Ia juga menyoroti pentingnya pengakuan terhadap kompetensi non-akademik. Banyak maestro dan pelaku budaya, menurutnya, lahir dari proses panjang di luar jalur pendidikan formal. “Keahlian yang tumbuh dari pengalaman juga merupakan kompetensi yang harus dihargai negara,” katanya.

Rapat tersebut turut dihadiri jajaran pejabat Kementerian Kebudayaan, antara lain Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan Anindita Kusuma Listya, Staf Khusus Menteri Rachmanda Primayuda, Direktur Bina SDM Kebudayaan Irini Dewi Wanti, serta perwakilan ESQ Group.

Menutup pertemuan, Fadli Zon menyatakan bahwa pemetaan talenta berbasis Talent DNA berpotensi dikembangkan menjadi program nasional. “Jika diterapkan secara luas, kita bisa menemukan bakat-bakat terpendam siswa di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Kementerian Kebudayaan menargetkan sistem manajemen talenta kebudayaan berbasis data ini menjadi pijakan kebijakan pembinaan seni yang berkelanjutan, adaptif, dan relevan dengan tantangan zaman—baik di tingkat pusat maupun daerah.

Penulis : Coki Dasopang

Editor : Marah Bangun

Berita Terkait

Cuaca di Bumi Bisa Ganggu Sinyal Satelit? Ini Penjelasan BRIN
NVIDIA Ajak Mahasiswa ITB Naik Kelas: dari Pengguna Jadi Pencipta AI
Komdigi Minta Transparansi AI dan Algoritma, Hak Publik atas Informasi Harus Dilindungi
Gandeng Industri Film Amerika, Pemprov DKI Perkuat Jakarta sebagai Kota Sinema
Bali Tech Week 2026: Menkomdigi Tinjau Kesiapan Data Center AI NeutraDC
Danantara Indonesia Rampungkan Akuisisi Aset Perhotelan di Makkah, Dorong Pengembangan Ekosistem Layanan Jemaah dalam Jangka Panjang
Ubah Sampah Jadi Manfaat, Amerta Gelar Kampanye Trashformer di FISIP USU
Telkom Hadirkan Inovasi Pembelajaran Numerasi untuk 100 Sekolah di Wilayah 3T
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 22:44 WIB

Cuaca di Bumi Bisa Ganggu Sinyal Satelit? Ini Penjelasan BRIN

Jumat, 23 Oktober 2026 - 16:24 WIB

NVIDIA Ajak Mahasiswa ITB Naik Kelas: dari Pengguna Jadi Pencipta AI

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:52 WIB

Komdigi Minta Transparansi AI dan Algoritma, Hak Publik atas Informasi Harus Dilindungi

Jumat, 23 Oktober 2026 - 07:53 WIB

Gandeng Industri Film Amerika, Pemprov DKI Perkuat Jakarta sebagai Kota Sinema

Kamis, 22 Oktober 2026 - 19:25 WIB

Bali Tech Week 2026: Menkomdigi Tinjau Kesiapan Data Center AI NeutraDC

Berita Terbaru

Aneka Berita

Cuaca di Bumi Bisa Ganggu Sinyal Satelit? Ini Penjelasan BRIN

Jumat, 23 Okt 2026 - 22:44 WIB