Mayoritas Perusahaan Yakin Adopsi AI Bantu Capai Target Keberlanjutan

- Penulis

Jumat, 8 November 2024 - 22:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

urbandiginews.com – Sebanyak 80% perusahaan yang disurvei di Asia, Eropa, dan Timur Tengah telah menetapkan target keberlanjutan mereka.

Namun, lebih dari setengahnya (53%) masih bergantung pada metode manual untuk mengukur progres mereka, menurut laporan survei “Tech-Driven Sustainability Trends and Index 2024” yang diinisiasi oleh Alibaba Cloud, penyedia teknologi digital dan kecerdasan buatan dari Alibaba Group.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa di antara perusahaan yang memiliki target keberlanjutan, 92% telah menetapkan target pengurangan emisi. Meski begitu, hanya sepertiga dari perusahaan tersebut yang berkomitmen pada pencapaian net-zero dengan target berbasis sains/ science-based targets (SBTs).

Adopsi SBTs tertinggi berada di pasar Asia yang sedang berkembang (39%), diikuti oleh Eropa (35%), pasar Asia yang maju (30%), dan Timur Tengah (22%).

Sekitar setengah dari perusahaan yang memiliki target keberlanjutan menyebutkan pendorong pertumbuhan (56%), kepatuhan terhadap peraturan (54%), dan tujuan perusahaan yang kuat (49%) sebagai motivasi utama mereka dalam menetapkan target perusahaan mereka.

Khususnya, di antara semua pasar, Indonesia menempati posisi tertinggi dengan 70% perusahaan yang memprioritaskan pertumbuhan, diikuti oleh Arab Saudi yang menekankan kepatuhan (73%), dan Uni Emirat Arab (UAE) yang menempatkan prioritas pada nilai perusahaan yang kuat (61%).

Sebanyak 78% perusahaan setuju bahwa teknologi sangat penting untuk mencapai tujuan-tujuan keberlanjutan global di pasar-pasar utama termasuk Malaysia (89%), Arab Saudi (87%), Singapura (86%), dan Prancis (86%).

Secara regional, keyakinan ini paling dominan di Timur Tengah (86%), diikuti oleh pasar Asia yang sedang berkembang (83%). Demikian pula, 78% percaya bahwa adopsi teknologi digital seperti cloud computing dan AI akan mempercepat kemajuan menuju target keberlanjutan, dengan Arab Saudi memimpin di angka 90%, diikuti oleh UAE (84%) dan Singapura (81%).

Baca Juga :  Film Puang Bos Sarat Kearifan Lokal

Tingkat Komitmen Pasar dan Tantangannya

Ketika menilai tingkat komitmen pasar, Singapura menempati peringkat tertinggi dengan indeks keberlanjutan 91%, diikuti oleh Jerman di 89% dan Indonesia di 86%.

Indeks keberlanjutan mengacu pada persentase perusahaan yang telah menetapkan target keberlanjutan di 13 pasar tersebut.

Perusahaan-perusahaan menghadapi berbagai hambatan dalam mencapai target keberlanjutan mereka. Keterbatasan anggaran menjadi hambatan paling signifikan yang mempengaruhi 29% organisasi, terutama di Timur Tengah (41%) dan Eropa (31%). Rantai pasokan yang kompleks juga mempersulit upaya yang ada terhadap 28% perusahaan, terutama di Timur Tengah (35%) dan Eropa (29%).

Selain itu, keterbatasan teknologi menghambat 23% perusahaan, dengan Timur Tengah menghadapi tingkat yang sedikit lebih tinggi sebesar 26%.

Keterbatasan waktu juga menjadi tantangan signifikan di semua wilayah dan mempengaruhi 23% organisasi. Bagi perusahaan yang belum menetapkan target keberlanjutannya, keterbatasan anggaran (32%) dan keterbatasan teknologi (29%) tetap menjadi hambatan utama.

Ketergantungan pada Pengukuran Manual

Seiring dengan upaya perusahaan untuk meningkatkan upaya keberlanjutannya, kebutuhan akan alat digital yang efektif menjadi semakin krusial.

Hasil survei menekankan pentingnya meningkatkan pemahaman perusahaan-perusahaan tentang alat digital karena 59% responden mengakui adanya kesenjangan pengetahuan mengenai bagaimana teknologi dapat membantu mencapai tujuan keberlanjutan.

Hal ini paling terlihat di Singapura (83%), Hong Kong (75%), dan Thailand (70%).

Laporan ini juga mengungkapkan ketergantungan yang masih tinggi pada praktik tradisional di kalangan bisnis, yang dapat menimbulkan tantangan dalam mencapai tujuan keberlanjutan secara efektif.

Studi ini menemukan lebih dari 50% perusahaan yang masih bergantung pada proses manual seperti spreadsheet, email, dan metode serupa untuk mengukur kinerja keberlanjutan.

Baca Juga :  Bangun Kesadaran Keamanan Digital, 420 Siswa Ikuti Program CyberHeroes Telkom

Semua pasar, kecuali Hong Kong (29%), Korea Selatan (43%), dan Prancis (49%), melampaui ambang batas 50%, dengan persentase tertinggi di UAE (68%), Arab Saudi (61%), dan Inggris (60%).

Sementara itu, hanya sekitar sepertiga perusahaan yang menggunakan alat perangkat lunak digital, termasuk platform cloud, untuk pengukuran dan pemantauan keberlanjutan. Indonesia (59%), Singapura (48%), dan Jepang (43%) menunjukkan adopsi solusi berbasis cloud yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata penggunaan di angka 38%.

“Hasil yang diperoleh dari survei ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak bagi organisasi-organisasi untuk mengevaluasi kembali metodologi pengukuran keberlanjutan mereka dan mulai menggunakan solusi teknologi canggih seperti platform berbasis cloud dan layanan AI.

Alat-alat digital ini tidak hanya akan menyederhanakan proses pengukuran, tetapi juga bisa memberikan pemahaman yang dapat ditindaklanjuti sehingga bisa mendorong kemajuan yang berarti untuk keberlanjutan,” kata Selina Yuan, Presiden Bisnis Internasional, Alibaba Cloud Intelligence.

“Sebagai penyedia layanan cloud yang berdedikasi, kami berkomitmen untuk memberikan solusi inovatif dan berbasis AI seperti Energy Expert guna membantu perusahaan mengukur dan menganalisis emisi karbon serta konsumsi energi secara efektif untuk memajukan tujuan keberlanjutan mereka.

Dengan mengatasi hambatan yang ada dan berinvestasi dalam kemajuan semacam ini, organisasi-organisasi dapat lebih baik menyelaraskan inisiatif keberlanjutan mereka dengan target yang ditetapkan,” tambahnya.

“Tech-Driven Sustainability Trends and Index 2024” bertujuan untuk memberikan wawasan berharga tentang perkembangan lanskap keberlanjutan perusahaan, serta mendalami bagaimana teknologi dapat diterapkan untuk mendorong perubahan yang berdampak.

Berita Terkait

Cuaca di Bumi Bisa Ganggu Sinyal Satelit? Ini Penjelasan BRIN
Telkom Akses Dukung Penataan Infrastruktur Telekomunikasi di Berbagai Kota di Indonesia
NVIDIA Ajak Mahasiswa ITB Naik Kelas: dari Pengguna Jadi Pencipta AI
KAI Mengangkut 50,76 Juta Ton Barang, Mendukung Rantai Pasokan Ekonomi Nasional
Komdigi Minta Transparansi AI dan Algoritma, Hak Publik atas Informasi Harus Dilindungi
Mitratel Perluas Inklusi Digital Nasional melalui Shared Infrastructure di Bali Tech Week 2026
Pilih, Menang, Hepi! Kebut Hadiah BombasTri Hadir Kembali Rayakan Loyalitas Pelanggan, Makin Seru dan Makin Meriah
Di Bali Tech Week 2026, Telkomsel Perkuat Pemanfaatan Teknologi AI Terkini Buatan Anak Bangsa untuk Kedaulatan Digital Indonesia
Berita ini 13 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 22:44 WIB

Cuaca di Bumi Bisa Ganggu Sinyal Satelit? Ini Penjelasan BRIN

Jumat, 23 Oktober 2026 - 18:23 WIB

Telkom Akses Dukung Penataan Infrastruktur Telekomunikasi di Berbagai Kota di Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 - 16:24 WIB

NVIDIA Ajak Mahasiswa ITB Naik Kelas: dari Pengguna Jadi Pencipta AI

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:52 WIB

Komdigi Minta Transparansi AI dan Algoritma, Hak Publik atas Informasi Harus Dilindungi

Jumat, 23 Oktober 2026 - 11:08 WIB

Mitratel Perluas Inklusi Digital Nasional melalui Shared Infrastructure di Bali Tech Week 2026

Berita Terbaru

Aneka Berita

Cuaca di Bumi Bisa Ganggu Sinyal Satelit? Ini Penjelasan BRIN

Jumat, 23 Okt 2026 - 22:44 WIB