urbandiginews.com – Empat orang tengah asyik berdiskusi di pojok sebuah cafe Jl Pattimura Makassar, pagi ini. Masing-masing ditemani secangkir kopi panas khas Toraja plus roti bakar. Sosok empat orang tadi sudah senior. Ditandai kerutan muka dan rambut yang mulai berwarna. Tapi gaya diskusinya mirip millenial.
Saya yang duduk di meja samping mereka bersama beberapa awak media Makassar, jelas mendengar topik yang lagi dibahas. Saya tidak ada niat untuk nguping atau nyimak pada awalnya, namun suara dan tawa mereka lumayan keras sehingga memaksa kuping ini untuk menangkapnya.
“Saya kasi tunjuk Hp ku ke bapaknya toh, baca memang ko apa katanya ChatGPT mengenai kasus yang ada. Appako. Tidak main-main ka ini,” seru bapak yang duduk paling pojok dengan logat kental Makassar.
Rupanya mereka tengah berdiskusi tentang AI. Ya, Artificial Intelligence yang super pintar itu. Yang mengejutkan, mereka seolah-olah terpesona dengan kehebatan AI. Hingga beberapa kali bapak yang di pojok mendemonstrasikan aplikasi AI yang dia gunakan. Sepertinya, mereka semua se-generasi dengan saya, baby boomer alias dari kaum digital migrant.
Sepemahaman saya, masyarakat Bugis – Makassar sangat kental dengan budaya wicara, atau pabbicara. Mereka suka berdiskusi, bercerita, dan banyak yang handal dalam bercerita. Sumber bahasannya seolah tidak pernah habis. Segala tema dilahap, terlebih politik dan isu luar negeri. Kini, mereka mulai tersentuh dengan kehadiran AI. Pasti akan menjadi semakin seru perbincangan kedepan.
Yup begitulah digital, perkembangan dan pertumbuhannya luar biasa. Jika 30 tahun lalu, perkembangan teknologi digital akan melompat dalam hitungan 3 tahun, kini hampir setiap bulan lahir teknologi digital yang baru.
Tinggal memilih, menunggu teknologi terbaru atau ikutan bermain dengan yang baru. Yang pasti, judol dan pinjol bukanlah teknologi digital. Jadi tidak perlu ikut-ikutan.
Daeng Acid, Makassar 10 November 2024.
===
Penulis : Daeng Acid
Editor : Marah Bangun







